Clasiss Reptilia
Reptilia (dalam bahasa latin, reptil
= melata) memiliki kulit bersisik yang terbuat dari zat tanduk (keratin). Sisik
berfungsi mencegah kekeringan. Ciri lain yang dimiliki oleh sebagian besar
reptil adalah anggota tubuh berjari lima, bernapas dengan paru-paru, jantung
beruang tiga atau empat, menggunakan energi lingkungan untuk mengatur suhu
tubuhnya sehingga tergolong hewan eksoterm, fertilisasi secara internal,
menghasilkan telur sehingga tergolong ovipar dengan telur amniotik bercangkang.
Reptil menujukkan kemajuan
dibandingankan dengan amfibi karena :
1) Integumen
bersisik yang sesuai untuk hidup di daerah yang kering Sisik
epidermis yang berfungsi sebagai pelindung terhadap pengaruh fisik (misal luka)
dan juga sebagai pelindung terhadap kekeringan
2) Tungkai
yang sesuai untuk bergerak cepat;
3) Pemisahan
lebih jauh dari darah yang beroksigen dan tidak beroksigen di dalam jantung;
4) Osifikasi
kerangka sempurna;
5)
Adanya cangkang pada telur dan adanya
amnion pada embrio sehingga menjamin perlindungan terhadap bahaya kekeringan
pada telur-telur yang diletakkan didarat.
6) Telur
yang sesuai untuk perkembangan di darat, dengan membran dan cangkang untuk
melindungi embrio.
Reptilia merupakan kelompok
vertebrata yang beradaptasi untuk hidup di darat yang lingkungannya kering.
Adanya sisik dan kulit yang menanduk mencegah hilangnya kelembaban tubuh dan
membantu hewan untuk hidup di permukaan yang kasar. Nama kelas Reptilia
menunjukkan cara berjalan (latin: retum=melata). Reptilia tersebar baik di
daerah teropis maupun daerah subtropics. Pada daerah-daerah yang mendekati
kutub dan tempat-tempat yang lebih tinggi jumlah dan jenisnya makin sedikit.
Reptile menempati macam-macam habitat. Phyton misalnya terdapat di
daerah-daerah tropis, hanya terdapat di rawa-rawa, sungai atau sepanjang
pantai. Penyu terbesar teradapat dilaut dan kura-kura darat raksasa terdapat di
kepulauan. Kadal dan ular umumnya terrestrial, tetapii ada yang menempati
karang-karang atau pohon
1.
Klasifikasi
Reptilia dan Penyebaran
1.1.Klasifikasi
Reptilia
merupakan salah satu kelas dari vertebrata yang terdiri dari empat ordo dari 14
ordo yang telah diketahui namun hanya 4 ordo yang kami ketahui, yaitu ordo Testudinata (Chelonia), Ordo squamata, ordo Crocodilia/Loricata dan ordo Rhynchocepholia/ Sphenodontia
1.1 ordo
testudinata terdiri dari 5 famili dan sub ordo Pleurodira yang dibagi menjadi 2 famili yaitu:
v ordo testudinata
1.
Famili
Chelydridae
Kingdom
: Animalia
Phylum :
Vertebrata
Class :
Reptilia
Ordo :
Testudinata
Family :
Chelydridae
Genus :
Chelydra
Spesies
: C.serpentina
Ciri-ciri :
a) Ekor panjang
b)
Berkepala besar
Habitat : Di air tawar.
2. Famili
Testudinidae
Kingdom : Animalia
Phylum :
Vertebrata
Class :
Reptilia
Ordo :
Testudinata
Family :
Testudinidae
Genus :
Testudo
Spesies : T.hermanii
Ciri-ciri :
a) Cangkang
yang keras
b) Cakar
dan tubuh berwarna gelap
3. Famili Emydidae
Kingdom : Animalia
Phylum
: Vertebrata
Class
: Reptilia
Ordo
: Testudinata
Family
: Emydidae
Genus
: Trachemys
Spesies
: T.scripta
Ciri-ciri :
a) Cangkang yang keras
b) Memiliki cakar.
4. Famili
Dermochelyidae
Kingdom
: Animalia
Phylum :
Vertebrata
Class :
Reptilia
Ordo :
Testudinata
Family :
Dermochelyidae
Genus :
Dermochelys
Spesies : D.coriacea
Ciri-ciri :
a) Panjang tubuh (panjang karapas) 3 m
b) Berat mendekati 1 ton
c) Warna
tubuh hitam sampai abu–abu kehijauan
d) Kaki tidak
bercakar dan perisai ditutupi oleh kulit sebanyak tujuh lipatan memanjang dan
berbintik putih tanpa keping yang jelas.
Habitat : Di lautan-lautan besar,
daerah dingin
5. Famili Carettochelydae
Kingdom : Animalia
Phylum :
Vertebrata
Class :
Reptilia
Ordo :
Testudinata
Family :
Carettochelyidae
Genus :
Lepidochelys
Spesies : L.olivacea
Ciri-ciri :
a) Dapat menarik leher ke samping
b) Kaki berselaput
Habitat :Di perairan, biasa di tepi pantai.
v Subordo
Pleurodira
Ciri-ciri :
a. Leher panjang.
b. Kepala dapat dilipat ke samping badan, namun tidak dapat
ditarik ke dalam tempurung.
c. Karapaks biasa berbentuk oval dan berwarna gelap
d. Memiliki 13 sisik plastral dan 9-11 tulang plastral.
e. Pelvis bersatu dengan tempurung/cangkang.
Terbagi menjadi 2 famili yaitu:
1. Famili Chelidae
Kingdom : Animalia
Phylum :
Vertebrata
Class :
Reptilia
Ordo :
Testudinata
Family :
Chelidae
Genus :
Chelodina
Spesies :
C.oblonga
Ciri-ciri :
a) Leher tidak dapat dimasukkan ke dalam perisai
b) Mempunyai keping intergular.
c) Kaki depan dengan empat kuku
d) Keping intergular yang tidak berhubungan dengan tepi perisai yang
relatif panjang.
2.
Famili Pelomedusidae
Kingdom : Animalia
Phylum :
Vertebrata
Class
: Reptilia
Family
: Pelomedusidae
Genus
: Pelomedusa
Spesies :
P.subrufa
Ciri-ciri :
a) Tubuh bulat
b) Ukuran tubuh 12 cm – 45 cm
c) Makanan
berupa serangga, moluska, dan cacing.
Habitat :Di air tawar
Keunikan
:Saat musim kemarau,dapat mengubur diri di
lumpur.
v Ordo Squamata
a. Ciri-ciri :
1)
Memiliki sisik yang terbuat dari zat tanduk.
2) Sisik
mengalami pergantian secara periodik (molting)
b. Dibagi atas 3 sub ordo
1. Sub-ordo Lacertilia (Sauria)
Ciri-ciri :
a) Tubuh
panjang
b) Mandibula
bersatu di bagian anterior.
c) Tulang
kuadrat berkontrak dengan pterigoid
d) Kelopak
mata biasa dapat digerakkan.
e) Sabuk
pectoral tumbuh baik atau tinggal sebagai sisa (vastigum).
f) Bentuk
lidah bercabang.
g) Mempunyai
kandung kemih
Terbagi
menjadi 5 famili yaitu :
1. Famili
Eublepharidae
Kingdom
: Animalia
Phylum :
Vertebrata
Class :
Reptilia
Ordo :
Squamata
Family :
Eublepharidae
Genus :
Goniurosaurus
Spesies : G.araneus
Ciri-ciri :
a) Memiliki kelopak mata yang dapat digerakkan .
b) Berwarna kuning dan memiliki empat garis coklat lebar di
bagian belakang.
c) Mata gelap coklat kemerahan.
2. Famili
Gekkonidae
Kingdom
: Animalia
Phylum
: Vertebrata
Class
: Reptilia
Ordo
: Squamata
Family
: Gekkonidae
Ciri-ciri :
a. Jari-jari kaki
yang memiliki adaptasi khusus yang memungkinkan untuk berada di bagian
permukaan tanpa menggunakan cairan atau tegangan
permukaan.
3. Famili Agamidae
Kingdom : Animalia
Phylum
: Vertebrata
Class
: Reptilia
Ordo
: Squamata
Family
: Agamidae
Genus
: Sitana
Spesies
: Sitana ponticeriana
Ciri-ciri :
a) Kaki kuat.
b) Ekor tidak dapat beregenerasi
c) Kaki belakang relative lebih panjang dari kaki depan
Keunikan : Mampu mengubah warna tubuh untuk mengatur suhu tubuh
4. Famili Chameleonidae
Kingdom
: Animalia
Phylum
: Vertebrata
Class
: Reptilia
Family
: Chameleonidae
Genus
: Uromastyx
Spesies
: Uromastyx acanthinuru
Ciri-ciri :
a) Ukuran tubuh relatif besar
b) Kulit yang keras dan warna tubuh gelap.
Habitat : Didalam gua-gua
5. Famili Iguanidae
Kingdom
: Animalia
Phylum
: Vertebrata
Class
: Reptilia
Ordo
: Squamata
Family
: Iguanidae
Genus
: Ctenosaura
Spesies
: Ctenosaura similis
Ciri-ciri :
a) Ukuran
tubuh bervariasi
b) Mempunyai sisik yang keras dan berwarna hijau
c) Mempunyai cakar.
Habitat : Di daratan
dan di bebatuan.
Sub-Ordo Ophidia (ular)
Ciri umum:
a.
Tidak mempunyai kaki ( tidak mempunyai telapak kaki ).
b.
Lubang telinga, tulang dada (sternum), dan kandung kemih tidak ada.
c.
Mandibula dihubungkan di bagian anterior oleh sebuah ligamentum.
d.
Bola mata tidak dapat digerakkan, tertutup oleh sisi transparan.
e.
Tidak mempunyai kelopak mata.
f.
Lidah panjang, bercabang dua dapat dijulurkan keluar
Terbagi menjadi 5 famili yaitu :
1.
Family
Colubridae
Kingdom
: Animalia
Phylum
: Vertebrata
Class
: Reptilia
Ordo
: Squamata
Family
: Colubridae
Genus
: Chrysopedia
Spesies
: Chrysopedia ornata
Ciri-ciri :
a) Tubuh hitam, ditutupi oleh sisik berwarna
hijau
b) Kepala berbentuk segitiga.
c) Melilit di batang pohon.
d) Hidup dipepohonan
2.
Family Elapidae
Kingdom : Animalia
Phylum
: Vertebrata
Class
: Reptilia
Ordo
: Squamata
Family
: Elapidae
Genus
: Naja
Spesies
: Naja haje
Ciri-ciri :
yang terletak di bagian belakang rahang atas.
b) Tubuh panjang dan ramping dengan sisik
halus, tubuh berwarna gelap.
3.
Family
Viperidae
Kingdom
: Animalia
Phylum :
Vertebrata
Class
: Reptilia
Ordo
: Squamata
Family
: Viperidae
Genus
: Vipera
Spesies
: Vipera aspis
Ciri-ciri :
b)
Kepala berbentuk segitiga.
4.
Family
Boidae
Kingdom : Animalia
Phylum
: Vertebrata
Class
: Reptilia
Ordo
: Squamata
Family
: Boidae
Genus :
Boidus
Spesies :
Boidus sp
Ciri-ciri :
a)
Rahang bawah yang relatif kaku dengan elemen koronoideus, sisa korset
panggul dengan anggota belakang yang
sebagian terlihat sebagai sepasang taji , satu di kedua sisi lubang .
5.
Famili
Pythonidae
Kingdom
: Animalia
Phylum :
Vertebrata
Class
: Reptilia
Ordo
: Squamata
Family
: Pythonidae
Genus
: Python
Spesies :
Python
molurus
Ciri-ciri :
a) Tidak menyerang manusia kecuali terkejut
atau terprovokasi.
b)
Mangsa dibunuh oleh proses penyempitan
3.
Subordo
Amphisbaenia
Ciri-ciri :
- Tidak berkaki
- Memiliki kenampakan seperti cacing karena warna yang semu merah muda dan sisik yang tersusun seperti cincin.
- Kepala tidak memisah dari leher
- Tengkorak terbuat dari tulang keras
- Memiliki gigi median di bagian rahang atas tidak memiliki telinga luar dan mata tersembunyi oleh sisik dan kulit.
- Tubuh memanjang dan bagian ekor hampir menyerupai kepala.
Kerajaan
: Aimalia
Filum
: Chordata
Kelas
: Reptilia
Ordo
: Squamata
Famili
: Amphisbaenia
Genus
: Amphisbaena
Spesies
: Amphisbaena sp
v Ordo Crocodilia
a. Ciri Umum :
1) Tubuh menjadi kepala, leher, badan, ekor.
2) Kaki dengan jari yang bercakar kuat.
3) Mulut panjang.
4) Dua lubang hidung pada moncong.
5) Mata besar lateral, mempunyai kelopak mata
atas dan bawah.
6) Membrane niktitans tembus cahaya.
7) Lubang telinga tetutup oleh lipatan kulit.
8) Anus merupakan celah longitudinal
dibelakang pangkal kaki belakang. Kulit dengan lempeng-lempeng berzat tanduk,
tersusun membujur tubuh.
1.2.Penyebaran
Reptil bisa
ditemui di semua benua kecuali Antartika, walaupun distribusi Reptil yang utama
hanya di daerah tropis dan sub-tropis. Habitat dari kelas reptilia ini
bermacam-macam. Ada yang merupakan hewan akuatik seperi penyu dan beberapa
jenis ular, semi akuatik yaitu ordo Crocodilia dan beberapa anggota ordo
Chelonia, beberapa sub-ordo Ophidia, terrestrial yaitu pada kebanyakan Sub-kelas
Lacertilia dan Ophidia, beberapa anggota ordo Testudinata, sub terran pada
sebagian kecil anggota sub-kelas Ophidia, dan arboreal pada sebagian kecil
sub-ordo Ophidia dan Lacertilia.
Reptilia hidup di rawa atau di sungai, atau di tapi
laut. Untuk tempat perlindungan, misalnya buaya menggali lubang di tepi sungai.
Makanan terdiri dari berbagai hewan. Reptilia mencakup empat ordo besar yaitu
Chelonia atau Testudines, Squamata atau Lepidosauria, Rhynchocephalia, dan
Crocodilia. Kebanyakan kadal tinggal di atas tanah (terrestrial), sementara
sebagiannya hidup menyusup di dalam tanah gembur atau pasir (fossorial).
Sebagian lagi berkeliaran di atas atau di batang pohon. Untuk komodo sangatlah
endemik yaitu terbatas persebarannya di beberapa pulau kecil di Nusa Tenggara,
seperti pulau Komodo, Padar, Rinca dan di ujung barat pulau Flores.
Biawak umumnya menghuni tepi-tepi sungai atau saluran
air, tepi danau, pantai, dan rawa-rawa. Di perkotaan, biawak sering temukan
hidup di gorong-gorong saluran air yang bermuara ke sungai. Sedangkan cecak
hidup di dinding dan atap rumah. Di alam cecak biasanya hidup pada tempat
teduh. Persebaran lacertilia sangat hampir setiap tempat dapat ditemukan
kecuali di daerah Arktik, Antartika dan Greenland.
2.
Ciri
Umum
Tubuh
ditutupi kulit kering bertanduk (tidak licin), biasanya dilengkapi sisik atau
kuku,
dan kelenjar dipermuakaan hanya sedikit.
Memiliki
dua pasang anggota badan, masing-masing dengan lima jari yang pada bagian
ujungnya terdapat cakar dan dapat digunakan
untuk berlari, merayap atau memanjat.
Anggota badan menyerupai dayung pada penyu,
memendek pada kadal, dan tidak ada
anggota badan pada beberapa jenis kadal dan
semua jenis ular.
Kerangka terdiri dari tulang
keras, tengkorak dilengkapi rongga oksipital
Jantung
terdiri dari empat ruang yang belum terpisah sempurna, dua serambi dan
vertikel
yang sebagian saling terpisah, satu pasang
berkas aorta, sel darah merah oval bikonkaf
dengan inti.
Respirasi dengan paru-paru,
pada kura-kura air dilengkapi dengan respirasi kloaka.
Terdapat 12 pasang saraf
cranial.
Suhu tubuh berubah-ubah
bergantung suhu lingkungan (poikilothermis).
Fertilisasi
internal, menggunakan organ kopulasi, telurnya besar mengandung kuning
telur yang terbungkus cangkang licin atau berkulit, biasanya telur
ditetaskan tetapi pada
beberapa jenis ular dan kadal embrio berkembang didalam tubuh betina.
Hewan Reptilia lebih maju dibanding amphibi karena memiliki diantaranya:
Penutup tubuh yang kering dan
bersisik sebagai adaptasi terhadap kehidupan di darat.
Anggota tubuh memungkinkan
hewan untuk berlari.
Pemisahan darah bersih dan
kotor di jantung.
Skeleton terdiri dari tulang
sejati.
Telur
dilengkapi dengan membrane dan cangkang sebagai pelindung embrio sehingga
memungkinkan untuk berkembang di darat.
3.
Karakteristik
1.
Tubuh ditutupi dengan kulit kering
berzat tanduk (tidak berlendir), biasanya dengan sisik atau sisik besar; beberapa
kelenjar permukaan.
2.
Dua pasang tungkai, masing-masing khas
dengan 5 jari yang berujung di cakar berzat tanduk dan cocok untuk
berlari,merangkak, atau memanjat; tungkai seperti dayung pada kura-kura laut,
tereduksi pada beberapa kadal, dan tidak ada pada beberapa kadal yang lain dan
pada semua ular (sisa-sisa pada boa).
3.
Osifikasi kerangka sempurna; tengkorak
dengan satu kondisi oksigen.
4.
Jantung beruang 4 tidak sempurna, 2
atrium dan 1 ventrikel setengah terpisah (ventrial terpisah pada buaya); satu pasang
lengkung aorta; korpuskula darah merah berinti,
bikonveks, dan oval.
5.
Respirasi selalu dengan paru-paru;
respirasi melalui kloaka pada kura-kura air.
6.
Dua belah pasang saraf kranial.
7.
Suhu tubuh bervariasi (poikiloterma).
8.
Fertilisasi internal, biasanya dengan
organ kopulasi; telur besar dengan banyak kuning telur, didalam cangkang yang kasaratau berzat kapur; biasanya
bertelur, tetapi dipertahankan berkembang di dalam induk betina pada beberapa
kadal dan ular.
9.
Membran embrionik (amnion, korion,
kantung kuning telur, dan alantois) terdapat selama perkembangan; individu muda
ketika menetes (atau lahir) menyerupai individu dewasa tidak ada metamorfosis.
Sumber
dikutip dari : Storer dan Usinger
4.
Morfologi
Dan Anatomi
1.
Tubuhnya tertutup oleh kulit bersisik dari zat tanduk
yang berguna untuk menjaga agar cairan
tubuhnya tidak kering.Bernapas dengan paru-paru.
2.
Alat gerak reptil yang hidup di air berupa sirip,
sedangkan yang hidup di darat berupa kaki yang dilengkapi dengan cakar.
3.
Bergerak merayap atau melata.Termasuk hewan berdarah
dingin.
4.
peredaran darahnya tertutup dan jantungnya terdiri 4
ruang.Berkembang biak secara kawin melalui pembuahan internal, bersifat
ovovivipar dan vivipar.
5.
Hewan reptil berkloaka dengan celah berbentuk
transversal atau longitudinal.Semua reptil bergigi kecuali kura-kura.
6.
Perlekatan gigi-gigi itu ada yang acrodont,
pleurodont, thecodont.Alat pendengar, ada yang dilengkapi dengan telinga luar
dan ada yang tidak.
7.
Mata ada yang berkelopak dan dapat bergerak, ada pula
yang kelopaknya tidak dapat bergerak serta berubah menjadi bangunan transparan.
8.
Reptil jantan memiliki alat kelamin luar berupa sebuah
penis atau satu pasang hemipenis.Embrio memiliki gigi telur untuk merobek
cangkang telur pada waktu menetas.
9.
Morfologi Reptilia meliputi kepala yang terpisah,
leher, tubuh, dan ekor, angggota tubuh berukuran pendek dengan sejumlah jari
yang pada bagian ujungnya dilengkapi cakar dan begitupun ada juga sebagaian
subordo yang lain yang tidak memiliki jari.
10.
Mulutnya yang panjang dilengkapi dengan gigi. Buaya
mialnya di dekat ujung moncong
terdapat dua lubang hidung.
11.
Mata berukuran besar dan terletak lateral, dengan
kelopak atas dan bawah, serta membrane nictatin transparan yang dapat bergerak
di bawah kelopak mata, telinga berukuran kecil terletak dibelakang mata.
12.
Anus terletak longitudinal dibelakang pangkal kaki
belakang.
Gambar morfologi
Gambar antomi
5.TIPE –TIPE GIGI REPTIL
SUMBER:
http://masdab-danang.blogspot.com/2012/10/anatomi-gigi-pada-beberapa-reptil.html
Beberapa contoh bentuk gigi pada beberapa jenis
reptil. Huruf a dan b merupakan gigi komodo (Varanus
komodoensis). Gigi komodo memiliki morfologi seperti pisau belati, pipih di
tepinya, dengan gerigi-gerigi kecil seperti mata gergaji. Tipe gigi hewan ini
berfungsi untuk mengoyak dan memotong jaringan otot mangsa dengan gerakan
menggigit dan merenggut. Bisa dibayangkan, pembuluh darah khususnya arteri yang
memiliki dinding lentur akan mudah terpotong oleh tipe gigi seperti ini.
Selanjutnya, gigi c - d merupakan gigi
buaya sinyulong (Tomistoma schlegelii) sedangkan e - f gigi
buaya muara (Crocodylus porosus), kedua tipe gigi ini hampir sama
(berbeda ukuran), memiliki bentuk sillinder mengerucut, sangat kuat dengan
ujung yang lancip. Buaya merupakan salah satu jenis predator yang menaklukkan
mangsanya dengan menggigit dengan kekuatan tekan yang kuat dari rahangnya.
Tidak jarang mangsa akan dikibas-kibaskan atau digulingkan hingga mati lemas.
Buaya sendiri tidak mengunyah mangsanya. Kekuatan utamanya ada pada rahangnya.
Huruf g - i merupakan
gigi taring dari jenis king cobra (Ophiophagus hannah), tipe gigi taring
ular ini adalah silinder kecil dengan ujung meruncing. Satu hal yang unik
adalah, di bagian tengah gigi taringnya terdapat suatu kanal atau saluran yang
tembus ke ujung taringnya. Hal ini berfungsi untuk menyuntikkan bisa (venom)
pada saat ular ini menggigit mangsa. Dalam hitungan detik atau menit, mangsa
akan lumpuh oleh venom yang disuntikkan. Satu hal yang perlu diperhatikan,
apabila menemukan ular jenis cobra, meskipun sudah mati, kita harus
berhati-hati dengan taringnya. Hal ini dikarenakan ada kemungkinan dalam kanal
tadi terdapat sisa venom yang tertinggal.
Terakhir, j - k, tipe gigi
ular phyton dari famili Phytonidae, bentuknya seperti belati yang
tajam di bagian ujungnya. Ular jenis phyton memangsa hewan buruannya dengan
menggigit, biasanya kepala menjadi target gigitannya. Sementara menggigit
kepala, tubuh hingga ekor ular ini akan melilit tubuh mangsanya. Otot-otot
sepanjang tubuh ular sangat kuat, didukung pertulangan yang lentur sehingga
lilitannya sangat mematikan, karena mangsa akan mengalami asphyxia.
6.1 Sistem Pencernaan (systema
digestorium)
System pencernaan pada reptile
terdiri atas saluran pencernaan dan kelenjar pencernaan. Reptile pada umumnya
terdiri atas saluran pencernaan dan kelnejar pencernaan. Pada umumnya reptile
adalah karnivora (pemakan daging). Saluran pencernaannya terdiri dari mulut,
kerongkongan, lambung, usus dan kloaka. Dan kelenjar pencernaannya terdiri atas
kelenjar ludah, pancreas dan hati.
1. Rongga Mulut.
Disokong oleh rahang atas dan rahang bawah.
Pada masing-masing rahang terdapat gigi-gigi yang berbentuk kerucut. Gigi menempel
pada gusi dan sedikit melengkung kea rah rongga mulut. Dan khusus pada ular
berbisa akan tumbuh gigi yang dapat menghasilkan racun yang terdapat pada
rongga mulut. Pada buaya giginya bisa mnegalami 50 kali pergantian. Pada
umumnya retil tidak mengunyah makanannya jadi giginya berfungsi sebagai
penangkap mangsa.
Pada rongga mulut terdapat lidah
yang melekat pada tulang lidah dengan ujung bercabang dua. Pada reptilian
pemakan insekta memiliki lidah yang dapat dijulurkan, sedangkan pada buaya dan
kura-kura lidahnya relative kecil dan tidak dapat dijulurkan. Lidah ular
berbentuk pembuluh yang terbungkus oleh selaput dan terletak di bagian rahang
bawah. Memiliki kelenjar mukoid yang sekretnya berfungsi agar rongga mulut
tetap basah dan dapat dengan mudah menelan mangsanya.Pada ular Kelenjar labia
bermodifikasi menjadi kelenjar poison yang bermuara di kantung yang terletak di
daerah gigi taring dan dikeluarkan melalui gigi tersebut.
2.
Kerongkongan
(esophagus)
merupakan saluran di belakang rongga mulut
yang menyalurkan makanan dari rongga mulut ke lambung. Di dalam esophagus tidak
terjadi proses pencernaan.
3.
Lambung
(ventrikulus)
tempat penampungan makanan dan pencernaan
makanan berupa saluran pencernaan yang membesar dibelakang esophagus. Disini
makanan baru mengalami proses pencernaan. Pada bagian fundus pylorus makanan
dicerna secara mekanik dan kimia.
4.
Intestinum
terdiri dari usus halus dan usus tebal yang
bermuara pada anus. Dalam usus halus terjadi proses penyerapan dan sisanya
menuju ke rectum, kemudian diteruskan ke kloaka untuk dibuang. Ukuran usus
disesuaikan dengan bentuk tubuhnya.
5.
Kelenjar
pencernaan,
terdiri atas hati dan pancreas.
Empedu yang dihasilkan oleh hati ditampung di dalam kantong yang disebut vesica
fellea. Hati tediri dari dua lobus yaitu sinister dan dexter yang berwarna
coklat kemerahan. Kantong empedu terletak pada tepi sebelah kanan hati.
Pancreas pada reptile terletak diantara lambung dan duodenum. Pankreas
berbentuk pipih dan berwarna kekuning-kuningan.
Gambar
sistem pencernaan
6.2 Sistem Pernafasaan (system respiratorium)
Secara umum reptilia bernapas
menggunakan paru-paru. Tetapi pada beberapa reptilia, pengambilan oksigen
dibantu oleh lapisan kulit disekitar kloaka. Pada reptilia umumnya udara luar
masuk melalui lubang hidung, trakea, bronkus, dan akhirnya ke
paru-paru. Sistem pernafasan pada reptilia lebih maju dari Amphibi.
Paru-paru
Reptil berada dalam rongga dada dan dilindungi oleh tulang rusuk. Paru paru
Reptil hanya terdiri dari beberapa lipatan dinding yang berfungsi memperbesar
permukaan pertukaran gas. Paru paru kadal, kura-kura, dan buaya lebih kompleks,
dengan beberapa belahan-belahan yang membuat paru-parunya bertekstur seperti
spon. Paru-paru pada beberapa jenis kadal, misalnya bunglon Afrika, mempunyai
pundi-pundi hawa atau kantung udara cadangan sehingga memungkinkan hewan
tersebut melayang di udara.
Reptilia
bernapas menggunakan paru-paru. Gas O2 dalam udara masuk melaluilubang hidung => rongga mulut => anak
tekak => trakea yang panjang => bronkiolus dalam paru-paru. Dari
paru-paru, O2 diangkut darah menuju seluruh jaringan tubuh. Dari jaringan
tubuh, gas CO2 diangkut darah menuju jantung untuk dikeluarkan melalui paru-paru => bronkiolus => trakea yang
panjang => anak tekak => rongga mulut => lubang hidung.
Pada Reptilia yang hidup di air, lubang
hidung dapat ditutup ketika menyelam.
Mekanisme pernafasan reptilia terjadi dalam dua fase
yaitu fase inspirasi dan fase ekspirasi. Fase inspirasi ialah pada saat tulang
rusuk mengembang volume rongga dada akan meningkat selanjutnya udara (oksigen)
akan masuk kedalam paru-paru sehingga terjadi inspirasi sedangkan fase
ekspirasi akan terjadi, jika tulang rusuk merapat sehingga udara( karbon dioksida ) dan uap air
keluar dari paru-paru.
Gambar sistem pernapasan pada kadal
6.3 Sistem Sirkulasi (system
cardiovasculare)
Sistem sirkulasi reptil lebih maju dibandingkan dengan
katak. Jantung terdiri dari empat
ruangan yaitu ventrikel kanan, ventrikel kiri, atrium kanan, dan atrium kiri
serta sebuah sinus venosus. Antara ventrikel kanan dan kiri terdapat sekat yang
belum sempurna sehingga terjadi percampuran darah yang kaya O2 dalam ventrikel
kiri dengan darah yang kaya CO2 dalam ventrikel kanan.
Khusus
pada jantung buaya,
pada sekat antar ventrikel terdapat lubang kecil yang disebut foramen panizzae yang
berfungsi sebagai berikut.
1) Memungkinkan distribusi oksigen yang cukup ke alat
pencernaan.
2) Memelihara keseimbangan tekanan cairan di dalam jantung
pada waktu menyelam.
Sistem sirkulasi darah pada reptil
termasuk sistem sirkulasi darah ganda. Darah dari vena yang kaya CO2 masuk ke jantung melalui sinus
venosus ke bagian atrium kanan lalu ke ventrikel kanan. Kemudian, darah dipompa
menuju paru-paru. Darah dari paru-paru yang kaya O2 masuk ke atrium kiri,
dilanjutkan ke ventrikel kiri. Darah dari ventrikel kiri dipompa keluar melalui
aorta menuju ke seluruh tubuh.
- Peredaran darah pada reptil mempunyai sistem peredaran ganda .
- Jantung kadal terdiri dari empat ruang yaitu serambi kiri, serambi kanan, bili kiri dan bilik kanan.
- Dari jantung keluar dua buah aorta , aorta kanan dan aorta kiri.
- Aorta kanan keluar dari bilik kiri dan mengalirkan darah ke seluruh tubuh.
- Aorta kiri keluar dari perbatasan bilik kiri dan bilik kanan mengalirkan darah ke bagian belakang tubuh.
Sumber : http://olahragasehaat.blogspot.com/2012/12/sistem-peredaran-darah-pada-kadal-reptil.html
6.4 Sistem Reproduksi Reptilia
Jantan
Memiliki
alat kelamin khusus : hemipenis
Sepasang
testis
Memiliki
epididimis
Memiliki
vas deferensiasi
Betina
Memiliki
sepasang ovarium
Memiliki
saluran telur (oviduk)
Berakhir
pada saluran kloaka
Kelompok reptil seperti kadal, ular
dan kura-kura merupakan hewan-hewan yang fertilisasinya terjadi di dalam tubuh (fertilisasi
internal). Umumnya reptil bersifat ovipar, namun ada juga reptil yang bersifat
ovovivipar, seperti ular garter dan kadal. Telur ular garter atau kadal akan
menetas di dalam tubuh induk betinanya. Namun makanannya diperoleh dari
cadangan makanan yang ada dalam telur.
Reptil betina menghasilkan ovum di dalam
ovarium. Ovum kemudian bergerak di sepanjang oviduk menuju kloaka. Reptil
jantan menghasilkan sperma di dalam testis.
Sperma bergerak di
sepanjang saluran yang langsung berhubungan dengan testis, yaitu epididimis.
Dari epididimis sperma bergerak menuju vas deferens dan berakhir di hemipenis.
Hemipenis merupakan dua penis yang dihubungkan oleh satu testis yang dapat
dibolak-balik seperti jari-jari pada sarung tangan karet. Pada saat kelompok hewan
reptil mengadakan kopulasi, hanya satu hemipenis saja yang dimasukkan ke dalam
saluran kelamin betina.
Ovum reptil betina yang telah
dibuahi sperma akan melalui oviduk dan pada saat melalui oviduk, ovum yang
telah dibuahi akan dikelilingi oleh cangkang yang tahan air. Hal ini akan
mengatasi persoalan setelah telur diletakkan dalam lingkungan basah. Pada
kebanyakan jenis reptil, telur ditanam dalam tempat yang hangat dan
ditinggalkan oleh induknya. Dalam telur terdapat persediaan kuning telur yang
berlimpah.
Hewan reptil seperti kadal, iguana
laut, beberapa ular dan kura-kura serta berbagai jenis buaya melewatkan
sebagian besar hidupnya di dalam air. Namun mereka akan kembali ke daratan
ketika meletakkan telurnya
.
Gambar
reproduksi betina
Urutannya yaitu :
Ovarium
--> Oviduct --> Ostium abdominalis --> muara oviduct --> cloaca
--> aperture cloacalis
Fertilisasi secara internal
Ovarium :
sepasang, berbentuk ovoid dan berwarna putih, terletak di collumna vertebralis.
pada gambar
diatas gambarnya adalah yang berbentuk bulat dengan 3 ovum.
Gambar
sistem reproduksi jantan
Gambar: a. Jantan
b.betina
Gambar
telur kadal
Sumber:http://www.realscienceprograms.com/files/webpages/ccssprogramcontent.htm
Gambar: telur ular menetas
6.5 Sistem Otot
Reptilia memiliki sistem otot daging yang lebih kompleks bila di bandingkan dengan amfibia, karena otot daging harus mendukung tubuh di daratan yang bersifat lebih berat dari pada di dalam air, selain itu juga untuk gerakan-gerakan yang sifatnya harus cepat Otot aksial (otot badan) reptil mulai menunjukkan beberapa speasialisasi seperti yang dikelompokkan pada mamal. Otot reptil terutama untuk gerakan lateral tubuh dan menggerakkan ruas-ruas tulang belakang. Dermal atau otot kulit berkembang baik pada reptil. Jaringan tungkai pada reptil menunjukkan variasi bergantung pada tipe gerakannya
6.6
Sistem indra
Reptil
memiliki alat indera dengan kepekaan yang berbeda- beda, bergantung pada
spesiesnya. Beberapa reptil juga memiliki indera khas yang tidak dimiliki oleh
reptil lainnya. Namun, secara umum indera yang dimiliki oleh reptil adalah
indera penglihatan, pendengaran dan kemoreseptor khusus.
a.indera penglihatan
secara
umum, reptil memiliki struktur mata yang sama dengan vertebrata lainnya. Ada
yang memiliki kelopak mata, ada pula yang tidak. Akomodasi pada semua reptil
kecuali ular diatur oleh lensa yang dikelilingi dengan cincin otot sehingga
lensa dapat memipih danmembesar. Sementara pada ular, untuk akomodasi lensa
mata dapat diarahkan maju- mundur.
Mata
pada ular tidak memiliki kelopak mata, tapi dilindungi oleh selaput transparan.
Penglihatan ular tidak sejelas penglihatan manusia. Sensor yang ditangkap
adalah bayangan dan sensitif terhadap cahaya dan panas. Sebagian besar ular
juga memiliki mata median yang berada di atas kepalanya. Mata median merupakan
hasil envaginasi dari dienchephalon. Mata median ini tidak membentuk gambaran
retina. Fungsinya adalah untuk mengamati durasi dari fotoperiodisme lingkungan
dan memasukkan pengaruhnya terhadap ritme biologis. Mata median ini diduga juga
berguna untuk menakar kadar radiasi sinar matahari yang memapar tubuh ular.
Pada
bunglon, mata lateralnya dapat berputar 360o. Selain itu, kedua mata lateralnya
dapat bergerak ke arah yang berbeda. Sehingga, hewan ini dapat melihat ke dua
arah sekaligus.
Sumber : (http://eri08tirtayasa.blogspot.com/2010/12/alat-indra-pada-reptil.html)
a.
Indera Pendengaran
Reptil tidak memiliki daun telinga.
Pada kadal, gendang telinganya nampak jelas terlihat dari luar, berada tepat di
belakang rahang. Buaya memiliki gendang telinga yang berada di dalam lubang
telinga, tepatnya berada di ujung saluran telinga. Gendang telinga ini
berfungsi untuk menggetarkan tulang- tulang pendengaran. Akan tetapi, hampir
semua jenis ular tidak memiliki gendang telinga. Sehingga, sinyal- sinyal getaran
diterima dari lingkungan melalui rahang bawah.
b.
Organ Pembau
Seperti hewan vertebrata lainnya, ular menggunakan
bau, pandangan, dan bunyi untuk mengetahui keadaan di sekitarnya. Ular membaui
melalui lubang hidung, yang dilengkapi dengan organ Jacobson, yaitu
suatu cekungan di langit-langit mulut yang berfungsi “merasakan” udara sekitar.
Seekor ular mengeluar-masukkan lidahnya untuk menangkap molekul bau dan
memindahkannya ke organ Jacobson secara kimiawi (khemoreseptor).
Organ Jacobson dilapisi sel-sel yang dapat menganalisa bau.
Sumber : (http://endrosambodo1984.wordpress.com/2012/04/02/pengenalan-ular/)
kemoreseptor khusus :
1) Organ Vomeronasal
Organ ini fungsinya ekuiivalen
dengan indera pembau pada manusia. Karena hidung ular hanya memiliki epitel
respirasi, maka fungsi penciumannya digantikan oleh organ ini. Organ
vomeronasal atau organ Jacobson berhubungan dengan bulbus olfaktorius dan
berfungsi sebagai pendeteksi kimia adanya mangsa maupun pemangsa. Lidah
berfungsi sebagai poembawa sinyal kimia berupa gas dari lingkungan ke dalam
organ ini.
2) Organ perasa
Lidah pada reptil memiliki sedikit
kuncup kecap. Sehingga, ia bisa merasakan mangsanya.
3) Pit Organ
Pit organ merupakan detektor panas
pada ular. pit organ ini berupa lubang- lubang di depan wajah ular yang di
dalamnya terdapat membran thermoreseptor. Pada gambar berikut, organ pit
ditunjukkan dengan panah warna merah. Sementara, panah berwarna hitam
menunjukkan lubang hidungnya.
6.7 Sistem Saraf(system nervosum)
Reptil memiliki otak dengan dua lobus olfaktorius yang panjang,
hemisfer serebral, 2 lobus optikus, serebellum, dan medulla oblongata yang
melanjut ke korda saraf. Di bawah hemisfer serebral terdapat traktus optikus
dan syaraf optikus, infundibulum, dan hipofisis. Terdapat 12 pasang syaraf
kranial. Pasangan-pasangan syaraf spinal menuju ke somit-somit
(ruasprimer)tubuh.
Sistem saraf pada reptil terdiri dari sistem saraf pusat dan
sistem saraf tepi.
Sistem saraf pusat meliputi otak dan sumsum tulang belakang.
1. Otak (ensefalon)
Otak mempunyai lima bagian
utama, yaitu:
a. Otak
besar (serebrum)
Otak besar merupakan sumber dari semua
kegiatan/gerakan sadar atau sesuai dengan kehendak, walaupun ada juga beberapa
gerakan refleks otak. Pada bagian korteks serebrum yang berwarna kelabu terdapat
bagian penerima rangsang (area sensor) yang terletak di sebelah belakang area
motor yang berfungsi mengatur gerakan sadar atau merespon rangsangan. Selain
itu terdapat area asosiasi yang menghubungkan area motor dan sensorik.
b. Otak tengah (mesensefalon)
Otak tengah terletak di depan otak kecil
dan jembatan varol. Di depan otak tengah terdapat talamus dan kelenjar
hipofisis yang mengatur kerja kelenjar-kelenjar endokrin. Bagian atas (dorsal)
otak tengah merupakan lobus optikus yang mengatur refleks mata seperti
penyempitan pupil mata, dan juga merupakan pusat pendengaran.
c. Otak kecil (serebelum)
Serebelum mempunyai fungsi utama dalam
koordinasi gerakan otot yang terjadi secara sadar, keseimbangan, dan posisi
tubuh. Bila ada rangsangan yang merugikan atau berbahaya maka gerakan sadar
yang normal tidak mungkin dilaksanakan.
d. Jembatan varol (pons
varoli)
Jembatan varol berisi serabut saraf yang
menghubungkan otak kecil bagian kiri dan kanan, juga menghubungkan otak besar
dan sumsum tulang belakang.
e. Sumsum sambung (medulla
oblongata)
Sumsum sambung berfungsi menghantar
impuls yang datang dari medula spinalis menuju ke otak. Sumsum sambung juga
mempengaruhi jembatan, refleks fisiologi seperti detak jantung, tekanan darah,
volume dan kecepatan respirasi, gerak alat pencernaan, dan sekresi kelenjar
pencernaan. Selain itu, sumsum sambung juga mengatur gerak refleks yang lain.
2. Sumsum tulang belakang
(medulla spinalis)
Pada penampang melintang sumsum tulang belakang ada bagian seperti
sayap yang terbagi atas sayap atas disebut tanduk dorsal dan sayap bawah
disebut tanduk ventral. Impuls sensori dari reseptor dihantar masuk ke sumsum
tulang belakang melalui tanduk dorsal dan impuls motor keluar dari sumsum
tulang belakang melalui tanduk ventral menuju efektor. Pada tanduk dorsal
terdapat badan sel saraf penghubung (asosiasi konektor) yang akan menerima
impuls dari sel saraf sensori dan akan menghantarkannya ke saraf motor. Pada
bagian putih terdapat serabut saraf asosiasi. Kumpulan serabut saraf membentuk
saraf (urat saraf). Urat saraf yang membawa impuls ke otak merupakan saluran
asenden dan yang membawa impuls yang berupa perintah dari otak merupakan
saluran desenden.
Sistem Saraf Tepi
Sistem saraf tepi terdiri dari sistem saraf sadar dan sistem saraf
tak sadar (sistem saraf otonom). Sistem saraf sadar mengontrol aktivitas yang
kerjanya diatur oleh otak, sedangkan saraf otonom mengontrol aktivitas yang
tidak dapat diatur otak antara lain denyut jantung, gerak saluran pencernaan,
dan sekresi keringat.
1. Sistem Saraf Sadar
Sistem saraf sadar disusun oleh saraf otak (saraf kranial), yaitu
saraf-saraf yang keluar dari otak, dan saraf sumsum tulang belakang, yaitu
saraf-saraf yang keluar dari sumsum tulang belakang.
Saraf otak ada 12 pasang yang terdiri dari:
1. Tiga pasang saraf sensori
2. Lima pasang saraf motor
3. Empat pasang saraf
gabungan sensori dan motor
Saraf otak
dikhususkan untuk daerah kepala dan leher, kecuali nervus vagus yang melewati
leher ke bawah sampai daerah toraks dan rongga perut. Nervus vagus membentuk
bagian saraf otonom. Oleh karena daerah jangkauannya sangat luas maka nervus
vagus disebut saraf pengembara dan sekaligus merupakan saraf otak yang paling
penting.
2. Saraf Otonom
Sistem saraf otonom disusun oleh serabut saraf yang berasal dari
otak maupun dari sumsum tulang belakang dan menuju organ yang bersangkutan.
Dalam sistem ini terdapat beberapa jalur dan masing-masing jalur membentuk
sinapsis yang kompleks dan juga membentuk ganglion. Urat saraf yang terdapat
pada pangkal ganglion disebut urat saraf pra ganglion dan yang berada pada
ujung ganglion disebut urat saraf post ganglion.
Sistem saraf otonom dapat dibagi atas sistem saraf simpatik dan
sistem saraf parasimpatik. Perbedaan struktur antara saraf simpatik dan parasimpatik
terletak pada posisi ganglion. Saraf simpatik mempunyai ganglion yang terletak
di sepanjang tulang belakang menempel pada sumsum tulang belakang sehingga
mempunyai urat pra ganglion pendek, sedangkan saraf parasimpatik mempunyai urat
pra ganglion yang panjang karena ganglion menempel pada organ yang dibantu.
Fungsi sistem saraf simpatik dan parasimpatik selalu berlawanan (antagonis).
6.8 sistem Rangka
Skeleton
axialis diatas tempurung kepala dan vertebrae. Tempurung kepala ada yang
bermoncong panjang merupakan tulang yang keras pada hewan dewasa. Pada rahang
bawah yang panjang terdapat sendi pada kuadrat yang telah bersatu dengan tulang
cranium. Bagian ventral dari cranium merupakan plat yang keras. Columna
vertebralis terdiri atas lima type yaitu cervixs, thoraxs, lumbal sacrum,
cauda. Pada buaya dibagian cervix terdapat tulang rusuk pendek yang
bebas(costae cervicalis), sedabgkan pada torax dan sternum dihubungkan oleh
costae thoracalis dengan perluasan tulang rawan.
Sumber : http://dangstars.blogspot.tw/2012/09/bagian-bagian-tubuh-hewan.html
berdasarkan
susunan tulang tengkoraknya, S.guntheri memiliki tulang rahang dengan otot yang
jelas (seperti pada kebanyakan reptil lainnya kecuali kura-kura), spesies ini
memiliki tipe tengkorak diapsid (terdapat dua lubang dibelakang lubang
matanya) dan sebuah tulang permukaan yang lebih besar sebagai tempat melekatnya
otot, hal ini mengakibatkan S.guntheri memiliki kepala yang besar, otot tulang
rahang yang terlihat jelas, dan gigitan yang ganas.
gambar : stipe tengkorak diasid pada Sphenodon
guntheri
6.9 Alat gerak (appendages)
Reptil
selama sejarah evolusinya telah menggunakan berbagai macam gerakan, ada yang
dapat berenang, berjalan atau berlari didaratan, menggali liang, memanjat dan
bahkan dapat meluncur di udara. kadal
adalah hewan reptil yang bisa berlari dan ada pula yang bisa memanjat permukaan
vertikal. Untuk buaya mampu berjalan diatas tanah dan berenang di air. Reptil
yang teradaptasi baik untuk kehidupan aquatik adalah kura-kura laut .
tungkainya termodifikasi menjadi sirip dan kuku mereduksi . kura-kura tanah
memiliki tungkai yang kuat dan mampu mengangkut
tubuh untuk bergerak. Gerakan melata pada ular adalah hal yang menarik.
Ternyata ular melata dengan cara berbeda. Ada 4 tipe gerakkan maju , yaitu
berombak horisontal, rectilinear, concertina dan sidewinder.
6.10 Kulit
Tubuh
reptil dibungkus oleh sisik kering sebagai pelindung tubuh, seperti halnya
sisik ikan. Sisik-sisik ini dibagi kedalam 2 kategori, epiderma dan derma. Tipe
sisik reptil adalah superfisial dan umumnya berganti secara berkala .sisik
derma adalah lempengan tulang yang tertanam permanen pada kulit dan bertahan
selama hidup.
Warna
tubuh reptil juga seperti kebanyakkan vertebrata lain, memiliki beberapa
fungsi.. pewarnaan mungkin unbtuk penyamaran dengan latar belakang
lingkungannya dan dengan demikian hewan menjadi tersembunyi dan terlindung.
a. Kelenjar kulit
a. Kelenjar kulit
Reptil
pada dasarnya memiliki sedikit kelenjar kulit, apalagi un tuk ular dan kadal
yang kulitnya kadangkala berganti . kelenjar mukus dan kelenjar kloaka pada
buaya berfungsi selama masa kawin. Beberapa kadal juga memiliki kelenjar
endokrin didekat kloaka dimasa kawin.
b.
sisik epidermal
sisik terlihat amat nyata pada kadal
dan ular. Sisik epidermal secara terus menerus diproduksi karena pertumbuhan
dari lapisan strtum germinativum epidermis dan umumnya berlipap sehingga
menjadi tumpang tindih satu sama lain. Ketikalapisan sisik ep[isermal tump[uh
sempurna atau secara utuh, akhirnya menjadi terpisah dari stratum germinativum dan tampak sebagai benda mati.
Ular dan kadal sisik-sisiknya berganti, sebuah prooses yang dikenal sebagai
ekdisi. Sebelum berlangsung ekdisi, sisik-sisik baru yang akan menggantikan
sisik tua. Kebanyakan ular berganti kulit secara sekaligus. Epidermal tua yang
lepas pertama pada daerah kepala termasuk kulit didorsal mata. Karapks dan
plastron adalah tempurung dorsal dan venteral yang melindungi kura-kura dan
penyu. Strukturnya tersususn sebagian besar oleh tulang dari lempengan kulit.
Sisik epidermal reptil menunjukkan
lebih banyak keragaaman bentuk dan struktur , terutama pada ular dan kadal.
Sisik tersebut mungkin tersusun secara longitruginal, diagonal atau
transversal(baris-baris melintang .
Gambar
sisik kepala ular tampak dari atas, sumber :
http://id.wikipedia.org/wiki/Sisik_ular
Gambar
sisik di lihat dari tampak bawah, sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Sisik_ular
7.MANFAAT DAN KERUGIAN DARI REPTIL
Beberapa
Reptlia bermanfaat dalam kehidupan manusia, antara lain sebagai berikut:
a.Sebagai
predator alami, contohnya ular memekan tikus, bengkarung memakan serangga.
b. Sebagai bahan pangan,
contohnya daging ular, daging kura-kura, dan telur penyu.
c. Minyak ular atau racun ular
dimanfaatkan manusia sebagai bahan obat-obatan.
d. Beberapa reptilia juga
merugikan, misalnya ular memangsa hewan ternak dan ular berbisa dapat membunuh
manusia.
Banyak jenis kadal dan ular
yang menguntungkan manusia karena memakan serangga dan rodentia. Kulit buaya,
ular, dan biawak serta penyu yang diperdagangkan sebagai bahan baku pembuatan tas, sepatu dll. Bagi sebgian
orang daging ular di jadikan makanan karena dipercaya memiliki khasiat sebagai
obat. Bisa ular juga sebagai penawar gigitan ular
DAFTAR
PUSTAKA
Anonim. 2012.
Reptilia.
(di akses27 feb 2013)
Anonim. morfologi kadal. Diakses dari
(di
akses 29 feb 2013)
Anonim.
Kelas reptil. Diakses dari
http://www.kaskus.us/showthread.php?p=261664479
(di
akses 29 feb 2013)
Anonim.
Reptilia. Diakses dari
(di
akses 29 feb 2013)
Anonim.
2012. Reptil kadal. Diakses dari
(di
akses 1 mar 2013)
Anonim.
2012. Sistem pada reptil dan habitat reptil. Diakses dari
(di
akses 1 mar 2013)
Fanfan,rifani. 2012. Reptilia.
Diakses dari
(diakses 28 feb 2013)
Melda.
2009. Sistem pernafasan pada reptil. Diakses dari
(di akses 1mar 2013)
Suhendra,
said. 2012. Reptilia. Diakses dari
(di akses 27 feb 2013)
Slot Machines | North Star Mohican Casino Resort
BalasHapusOn top 오즈포탈 of that, 토토 사이트 추천 there 188bet is a casino in the north side of the Mohican town of Casino du Lac-Leamy. 예스 벳 The slot machines are 라이브스코어 located close to